Masih Butuhkah Kita Sosok Guru dalam Kehidupan? (pt.1)

Manusia di zaman sekarang sungguh erat kaitannya dengan era digital, sosial media, dan gadget. Di era digital ini, gadget menjadi suatu kebutuhan utama manusia dalam menjalankan kehidupannya. Tak terlekang oleh waktu, seakan perangkat digital ini menjadi jawaban semua kebutuhan yang manusia butuhkan, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, bisnis, serta seluruh lini dapat diakses.

Era digital berkembang begitu cepat, tren demi tren digaungkan dan tak satupun manusia yang luput dari belenggu gadget. Saat ini, semua orang dapat mengetahui segala hal. Mulai dari konten paling bermanfaat hingga konten yang tidak bisa ditebak arah dan tujuannya.


Mengenai hal ini, apa kabar generasi muda kita?

Kesempatan mengakses ilmu pengetahuan serta wawasan secara instan melalui teknologi Artificial Intelligent membuat penggunanya berhasil memperkaya ide-ide untuk direalisasikan, dirasa sangat signifikan dan membuat anak muda saat ini lebih cepat beradaptasi dengan perubahan musim tren dan keadaan global yang terjadi bahkan dalam hitungan minggu.

Sebagian orang berhasil mengendalikan sosial media sesuai dengan arah yang akan mereka tuju. Namun sayangnya tidak sedikit pula yang belum berhasil mendapatkan produktivitas dari perselancaran mereka di dunia maya. Hanya tenggelam dalam gemerlap dunia maya lantas melupakan dunia nyata. Hal ini pun mengharuskan kita agar selalu berhati-hati dengan perkembangan zaman yang semakin pesat ini, karena dibalik kemudahan berteknologi dan bersosial media akan selalu ada celah untuk terjerumus kepada sesuatu yang tidak kita inginkan. Sebuah pepatah pernah mengatakan “Manusia itu adalah Musuh bagi sesuatu yang tidak ia ketahui”.

Seiring pesatnya perkembangan teknologi digital inilah yang kemudian menjadikan peran guru di sekolah dan universitas mulai banyak diabaikan. Generasi Z dan Generasi Alpha merupakan generasi yang terpapar sosial media paling intens dari generasi lainnya dan mendapatkan pengaruh yang begitu kuat oleh pengaruh AI. Pesat memahami segala perkembangan yang ada menjadikan dirinya sudah familiar dengan digital bahkan sejak usia masih sangat dini.

Bagi generasi Z dan Alpha, teknologi AI adalah sesuatu yang paling bisa diandalkan tatkala mereka sedang kesulitan berpikir ketika sedang mengerjakan tugas. Bahkan tak jarang kemudahan yang bergelimang ini menjadikan mereka seakan enggan untuk berpikir lebih dan mengeluarkan potensi diri secara maksimal.


Tak jarang akibat semua kemudahan ini serta belenggu yang menjadikan mereka telah bergantung pada sosial media, menjadikan mereka melupakan aspek-aspek normatif bersosial kepada sesama manusia. Bagaimana seharusnya bersikap terhadap seorang guru, pengajar, pendidik, pembimbing, atau siapapun itu yang telah berjasa mengantarkan generasi ini untuk melihat dunia jauh dari hanya sekedar dunia maya yang semu.

Akhlaaqul-karimah atau budi pekerti yang baik adalah nilai yang sekian banyak teknologi AI pun tak akan mampu melakukannya, apalagi untuk mengajarkannya kepada manusia. Karena pada fitrahnya hanya manusialah yang tercipta dengan dan untuk itu.

Pondasi kehidupan yang tidak bisa diajarkan seorang robot secara maksimal. Menjadi nilai yang lama kelamaan semakin tergerus oleh masifnya perkembangan teknologi digital pada saat ini.

[To be Continued...]

Comments