Tahun yang begitu berat dengan sekian suka dan duka didalamnya, tak satupun dari suka cita yang membekas erat dibenakku. Terkalahkan oleh sederet duka yang telah kutelan mentah-mentah selama setahun ini.
Menjadi menusia? Mungkin sudah tidak sempat lagi. Tuntutan silih berganti dengan tidak mempedulikan perasaan yang sedang dirasakan. Memvalidasinya apalagi, jangan harap bisa. Istirahat saja bisa menjadi aib.
"Masa sih seburuk itu?" Iya. Sekian kali aku coba merenungkan atas apa yang telah terjadi di masa lalu, tidak ada yang mengalahkan kepedihan atas apa yang kurasakan saat ini.
Ungkapan "Money can't buy us happiness" itu betul adanya. Secara finansial, keadaanku saat ini bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keinginanku. Makanku 3 kali sehari juga sudah tersedia tanpa harus pusing membeli dan menemukan ide masakan harian seperti yang ada di beranda Instagram itu. Akupun tidak perlu pusing memikirkan biaya sewa kontrakan, listrik, air, atau gas seperti yang aku pernah jalani ketika tahun terakhirku di Mesir.
Sedikit kilas balik, ujian hidup yang kualami di Mesir pun tak kalah hebatnya, dikeluarkan dari asrama, uang bulanan beasiswa yang sempat ditangguhkan beberapa bulan, suka duka mencari apartemen untuk disewa, apartemen yang kamar mandinya rusak dan harus diperbaiki selama 3 minggu, dan mengakibatkan kami satu rumah harus mengungsi di rumah teman kami. kesana kemari mencari tumpangan, bahkan, kamar mandi pun kami menumpang di Masjid yang berada di dekat rumah. Padahal, dalam budaya Mesir, kamar mandi laki-laki dan perempuan harus dipisah dan menjadi aib jika salah satu masuk ke kamar mandi lainnya. Namun hal itu pun harus kulakukan. Demi memenuhi kebutuhan harian manusia berupa mandi dan proses ekskresi-nya. Jangan tanya soal makanan sehari-hariku, uang untuk membeli air mineral pun aku sering kali tidak punya. Menu makanan pun hanya bisa beli kentang mentah 1 kg yang seharga 5 L.E. untuk stok beberapa hari saja. Belum lagi harus membayar sewa rumah lengkap dengan listrik, gas, dan wifi-nya. Tak lupa biaya transportasiku untuk kuliah.
Perpindahan dari rumah pertama dan rumah kedua pun tak luput dari drama-drama duniawi. Ujian kuliah sekaligus praktek yang membuat otak dan fisik ini harus mengeluarkan kemampuan terbaiknya. kebutuhan wisuda pun tak luput jadi wishlist keuanganku untuk segera dipenuhi, dan kuputuskan untuk bekerja. Itupun tak cukup di satu tempat, aku berpindah tempat kerja beberapa kali, dengan beragam pola serta job yang aku dapatkan. Tapi semua itu berhasil aku lalui dan menjadi tantangan sekaligus cerita terpahit dan terindah yang pernah kujalani dalam hidupku.
Lalu ketika aku sudah menginjakkan kaki di tempat ini, akupun melihat foto-fotoku di galeri lama dan aku mulai termenung. Dengan keadaan sepahit itu di Mesir, aku masih bisa tersenyum lebar dan menyempatkan diri untuk berkumpul sekedar bercerita dan tertawa bersama teman-temanku.
Apa yang salah dengan diriku?
Aku mulai mempertanyakan keadaanku setiap hatinya. Keadaan mental ku sudah tidak karuan.
(To Be Continued)

Comments
Post a Comment