[...]
Sebuah mahfudzot mengingatkan kita :
إِنَّ المُعَلِّمَ وَالطَّبِيْبَ كِلَاهُمَا # لَا يَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا
لَمْ يُكْرَمَا
فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيْبَا # وَاقْنَعْ لِجَهْلِكَ إِنْ
جَفَوْتَ مُعَلِّمَا
“Sungguh, seorang dokter dan guru, tak akan memberi nasehatnya.
Apabila tidak dihormati.
(Maka) bersabarlah atas penyakitmu, bilamana kau acuhkan
(nasehat) seorang dokter.
Dan terimalah kebodohanmu, bilamana kau mengabaikan (nasehat)
seorang guru.”
Jika kita berpikir dengan akal sehat maka secara sadar
akan menemukan bahwa apabila seorang pasien mengalami keluhan terhadap penyakit
yang diidapnya, maka nasehat dokter lah yang diperlukannya. Namun jika ia tidak
mengindahkan nasehat atau saran dokter atas penyakitnya itu, maka bersiaplah
untuk rasa sakit yang lebih panjang dari yang sedang dialaminya.
Begitu pula pada seorang guru. Jika seorang murid
merasa tidak memiliki kemampuan atas suatu ilmu, lalu dia berguru pada gurunya
namun mengabaikan nasehat gurunya, niscayalah murid tersebut tidak akan
bertambah apapun darinya kecuali ia akan terlampau jauh dari keberkahan ilmu
tersebut. Bagaikan orang buta yang tidak mempunyai penuntun kepada jalan,
padahal ia memilikinya, namun tidak menghiraukannya.
Inilah sebaik-baiknya realita yang kita dapat
mengambil hikmah dan tindakan didalamnya. Sebuah peringatan bagi kita yang
sudah sangat jelas tertuang didalam
mahfudzot tersebut untuk selalu menjadi pengingat kita dalam bermuamalah dengan
para guru kita. Bagaimana seharusnya kita dan apa saja yang harus kita pelihara
demi menjaga keberkahan ilmu di dunia maupun di akhirat.
Namun tak disangka bukti nyata dari mahfudzot diatas
sedang kita alami saat ini.
Meremehkan, mengabaikan bahkan merendahkan peran guru.
Disaat guru tidak diberikan perlakuan yang pantas sebagai seorang pendidik,
disaat itu pula guru mulai ditekan atas segala tindak tanduknya. Padahal
seperti yang kita tahu, guru adalah pendidik, seorang yang diberikan amanat
mendidik hingga membimbing muridnya bukan hanya sukses secara keilmuan, namun
lebih daripada itu – menjadi manusia berbudi pekerti yang baik.
Dikatakan pula bahwa guru juga mendidik generasi
penerus. Ini adalah Jangkauan paling jauh yang dibebankan kepada seseorang yang
hanya menganggap ini sebuah profesi.
Tapi apakah saat ini orang-orang sudah memperlakukan
seorang guru selayaknya seorang pendidik yang berjasa?
Dikutip dari Kumparan News, Kamis (3/8) seorang guru
di Kabupaten Rejang Lebong, Kab. Bengkulu dilaporkan oleh orangtua siswa ke
pihak kepolisian akibat menegur siswanya yang merokok, selain itu pada Selasa
(1/8) sang guru juga diserbu dengan tindakan kekerasan hingga mengakibatkan
mata kanannya mengalami kebutaan permanen.
Berita di atas hanya satu kutipan dari sekian
banyaknya kasus-kasus penindasan terhadap guru. Kemerosotan akhlak dan budi
pekerti itu nyata terjadi saat ini. Murid melawan guru, murid tidak terima
diingatkan guru dan akhirnya membalas dendam terhadap gurunya. Tak cukup sampai
situ, orangtua dari seorang murid ini pun ikut-ikutan “memboikot” tindakan guru
yang sedang berusaha mendidik anaknya itu. Bagi yang punya kuasa menggunakan
kekuasaannya untuk menginjak-injak martabat guru. Sungguh ironi yang telah sekian
lama terjadi.
Disaat guru dituntut untuk mendidik sebuah generasi,
namun Ketika memberikan peringatan kepada anak didiknya, guru pun tidak dibela
malah ditindas dan di bungkam untuk menyatakan kebenaran yang seharusnya ia
ajarkan.
Namun setelah membaca mahfudzot diatas, tidakkah kita
merasa bahwa kejadian yang menimpa para guru ini ada kaitannya dengan pesan
dari mahfudzot tersebut? Beberapa orang mungkin telah mengenali bait mahfudzot
ini ketika kita nyantri di pesantren, namun seberapa jauh bait ini mempengaruhi
kesadaran kita akan apa yang telah terjadi pada dinamika pendidikan hari ini?
Atau kita hanya diam mengabaikan dan malah ikut berpartisipasi atas terjadinya
kejadian yang sangat menyayat hati.
Perlu sebuah tindakan nyata untuk merubah situasi yang
menyakitkan ini, para guru dan akademisi harus maju membela kebenaran dan terus
menyuarakannya. Meminta hak untuk setidaknya diberikan pembelaan agar
kemungkaran mundur angkat kaki. Karena kemungkaran lah yang seharusnya
dipermalukan dan dihilangkan dari dunia ini.
Kita patut banyak-banyak mengucap syukur karena masih
memiliki sosok guru yang rela berkorban jiwa raga-nya untuk mengabdi pada
bangsa ini, berkontribusi untuk menghilangkan kebodohan dan kebatilan dari bumi
Indonesia ini. Justru dengan hilangnya sosok guru atau ulama’ yang patut kita
waspadai, karena disaat tidak ada lagi sosok guru yang membimbing dan hanya
tersisa seorang yang lemah akhlak lagi pengetahuannya dijadikan panutan untuk
menegakkan suatu bangsa, maka saat itulah akan muncul sebuah kehancuran pada
suatu generasi atau bangsa.
Seperti yang termaktub dalam hadits Rasulullah SAW:
عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ، قال: سمعت رسول
الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ
انْتِزَاعاً يَنْتَزعهُ مِنَ النَّاسِ، وَلكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ
العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً
جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأفْتوا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا
وَأضَلُّوا».
(صحيح) – (متفق عليه)
Dari Abdullah bin Amru Bin ‘Ash RA., ia berkata :
“Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah
Ta’ala tidak menggenggam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para
hamba-Nya. Namun Dia menggenggam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga,
jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh.
Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka
mereka tersesat dan menyesatkan. (Riwayat Shahih-Muttafaq ‘Alaih)
Dengan adanya sekian banyak peristiwa
memilukan yang terjadi di negeri kita ini, semoga dapat mengetuk pintu hati
kita agar semakin peka atas segala kebatilan dan terus berjihad untuk
menegakkan kebenaran dimanapun kita berada. Wallahu
waliyyut-taufiq.


Comments
Post a Comment