Masih Butuhkah Kita Sosok Guru dalam Kehidupan? (pt.2)

[...] 

Sebuah mahfudzot mengingatkan kita :

إِنَّ المُعَلِّمَ وَالطَّبِيْبَ كِلَاهُمَا # لَا يَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا

فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيْبَا # وَاقْنَعْ لِجَهْلِكَ إِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمَا

“Sungguh, seorang dokter dan guru, tak akan memberi nasehatnya. Apabila tidak dihormati.

(Maka) bersabarlah atas penyakitmu, bilamana kau acuhkan (nasehat) seorang dokter.

Dan terimalah kebodohanmu, bilamana kau mengabaikan (nasehat) seorang guru.”

Jika kita berpikir dengan akal sehat maka secara sadar akan menemukan bahwa apabila seorang pasien mengalami keluhan terhadap penyakit yang diidapnya, maka nasehat dokter lah yang diperlukannya. Namun jika ia tidak mengindahkan nasehat atau saran dokter atas penyakitnya itu, maka bersiaplah untuk rasa sakit yang lebih panjang dari yang sedang dialaminya.

Begitu pula pada seorang guru. Jika seorang murid merasa tidak memiliki kemampuan atas suatu ilmu, lalu dia berguru pada gurunya namun mengabaikan nasehat gurunya, niscayalah murid tersebut tidak akan bertambah apapun darinya kecuali ia akan terlampau jauh dari keberkahan ilmu tersebut. Bagaikan orang buta yang tidak mempunyai penuntun kepada jalan, padahal ia memilikinya, namun tidak menghiraukannya.


Inilah sebaik-baiknya realita yang kita dapat mengambil hikmah dan tindakan didalamnya. Sebuah peringatan bagi kita yang sudah sangat jelas tertuang  didalam mahfudzot tersebut untuk selalu menjadi pengingat kita dalam bermuamalah dengan para guru kita. Bagaimana seharusnya kita dan apa saja yang harus kita pelihara demi menjaga keberkahan ilmu di dunia maupun di akhirat.

Namun tak disangka bukti nyata dari mahfudzot diatas sedang kita alami saat ini.

Meremehkan, mengabaikan bahkan merendahkan peran guru. Disaat guru tidak diberikan perlakuan yang pantas sebagai seorang pendidik, disaat itu pula guru mulai ditekan atas segala tindak tanduknya. Padahal seperti yang kita tahu, guru adalah pendidik, seorang yang diberikan amanat mendidik hingga membimbing muridnya bukan hanya sukses secara keilmuan, namun lebih daripada itu – menjadi manusia berbudi pekerti yang baik.

Dikatakan pula bahwa guru juga mendidik generasi penerus. Ini adalah Jangkauan paling jauh yang dibebankan kepada seseorang yang hanya menganggap ini sebuah profesi.

Tapi apakah saat ini orang-orang sudah memperlakukan seorang guru selayaknya seorang pendidik yang berjasa?

Dikutip dari Kumparan News, Kamis (3/8) seorang guru di Kabupaten Rejang Lebong, Kab. Bengkulu dilaporkan oleh orangtua siswa ke pihak kepolisian akibat menegur siswanya yang merokok, selain itu pada Selasa (1/8) sang guru juga diserbu dengan tindakan kekerasan hingga mengakibatkan mata kanannya mengalami kebutaan permanen.

Berita di atas hanya satu kutipan dari sekian banyaknya kasus-kasus penindasan terhadap guru. Kemerosotan akhlak dan budi pekerti itu nyata terjadi saat ini. Murid melawan guru, murid tidak terima diingatkan guru dan akhirnya membalas dendam terhadap gurunya. Tak cukup sampai situ, orangtua dari seorang murid ini pun ikut-ikutan “memboikot” tindakan guru yang sedang berusaha mendidik anaknya itu. Bagi yang punya kuasa menggunakan kekuasaannya untuk menginjak-injak martabat guru. Sungguh ironi yang telah sekian lama terjadi.

Disaat guru dituntut untuk mendidik sebuah generasi, namun Ketika memberikan peringatan kepada anak didiknya, guru pun tidak dibela malah ditindas dan di bungkam untuk menyatakan kebenaran yang seharusnya ia ajarkan.

Namun setelah membaca mahfudzot diatas, tidakkah kita merasa bahwa kejadian yang menimpa para guru ini ada kaitannya dengan pesan dari mahfudzot tersebut? Beberapa orang mungkin telah mengenali bait mahfudzot ini ketika kita nyantri di pesantren, namun seberapa jauh bait ini mempengaruhi kesadaran kita akan apa yang telah terjadi pada dinamika pendidikan hari ini? Atau kita hanya diam mengabaikan dan malah ikut berpartisipasi atas terjadinya kejadian yang sangat menyayat hati.

Perlu sebuah tindakan nyata untuk merubah situasi yang menyakitkan ini, para guru dan akademisi harus maju membela kebenaran dan terus menyuarakannya. Meminta hak untuk setidaknya diberikan pembelaan agar kemungkaran mundur angkat kaki. Karena kemungkaran lah yang seharusnya dipermalukan dan dihilangkan dari dunia ini.

Kita patut banyak-banyak mengucap syukur karena masih memiliki sosok guru yang rela berkorban jiwa raga-nya untuk mengabdi pada bangsa ini, berkontribusi untuk menghilangkan kebodohan dan kebatilan dari bumi Indonesia ini. Justru dengan hilangnya sosok guru atau ulama’ yang patut kita waspadai, karena disaat tidak ada lagi sosok guru yang membimbing dan hanya tersisa seorang yang lemah akhlak lagi pengetahuannya dijadikan panutan untuk menegakkan suatu bangsa, maka saat itulah akan muncul sebuah kehancuran pada suatu generasi atau bangsa.


Seperti yang termaktub dalam hadits Rasulullah SAW:

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزعهُ مِنَ النَّاسِ، وَلكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأفْتوا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأضَلُّوا».  
(صحيح) – (متفق عليه)

Dari Abdullah bin Amru Bin ‘Ash RA., ia berkata : “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggenggam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggenggam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan. (Riwayat Shahih-Muttafaq ‘Alaih)

Dengan adanya sekian banyak peristiwa memilukan yang terjadi di negeri kita ini, semoga dapat mengetuk pintu hati kita agar semakin peka atas segala kebatilan dan terus berjihad untuk menegakkan kebenaran dimanapun kita berada. Wallahu waliyyut-taufiq.

Comments