Beban yang tiap harinya mengantri untuk diselesaikan mulai membuat diri ini kelelahan. Aku tahu, apapun yang kita kerjakan di dunia ini akan menjadi ladang pahala untuk akhirat nanti, but please be realistic, masa depan-ku tidak berada pada tempat ini. Aku tidak boleh lupa atas hal-hal yang menjadi tanggunganku yang sesungguhnya. Masa depan yang sebenarnya ingin aku kejar. Bukan bertele-tele seperti ini. Mungkin jika keadaanku tidak terlalu terbebani seperti ini, aku tidak akan merasa begitu lelah. Aku kembali untuk menunaikan tugas ini saja sudah menjadi suatu hal yang patut diapresiasi dari diri yang 'bebal' ini. Disaat beberapa pendahalu dan temanku ada yang tidak kembali untuk menjalankan tugasnya, aku masih ingin menyelesaikan apa yang dari awal sudah kumulai. Namun begitulah manusia, tidak pernah puas dengan ego-nya. Hanya bisa menuntut dan meminta, tanpa mau dan bisa mengerti apa yang sedang dirasakan orang lain.
Lama-kelamaan aku mulai memepertanyakan kemampuan dan self esteem-ku, am i worthy enough? Perlahan aku kesusahan melihat diriku secara utuh, hanya samar-samar, apa yang kugenggam seakan berceceran dan tak mampu kuraih lagi.
Setahun yang bahkan tidak mampu mempersiapkan apa-apa untuk masa depanku. Kenyataan pahit yang membuatku tidak bisa berkutik apa-apa. Tak ada yang mau kusalahkan untuk ini, dan akupun tak mau menyesali pilihanku. Aku hanya bisa merenung hari demi hari. Sembari tak mempedulikan gonggongan manusia-manusia tukang gosip disekitarku. "Huh, mereka iniloh, gak punya kerjaan apa ya sampe-sampe hidup orang dia urusin mulu" gerutu-ku tiap hari. Ada saja hal-hal membagongkan yang terjadi setiap harinya. Seakan tidak hidup jika tidak ada huru-hara yang terjadi.
Katanya apapun itu harus kita syukuri. Hanya materi yang kusyukuri. Sisanya 'emboh', gak gila juga sudah bagus. Capek yang bener-bener melelahkan namun kita tidak di-ridhoi untuk beristirahat, barang satu detik. Sekelilingku yang toxic ini selalu berkata "Ya Allah, nyesel deh tidur" "Ya Allah, lama banget aku tidur" yang padahal dia baru tidur cuma sejam. Can you imagine living between these people? Mereka gak menormalisasi istirahat barang sejam-dua jam. Saking loyalnya kali ya. Sh*t.. It's not loyalty.. for me it's emotional abuse. Bagaimana bisa tidur yang merupakan kebutuhan fisik dan mental kemudian ada yang mengklaim itu adalah sebuah hal yang ia sesali karena ia lakukan.. Sick.. I can't relate, seriously. Aku selalu bertanya-tanya, aku ini hidup di dunia apa sih sekarang? Kenapa begitu menyakitkan, fisikku selalu diforsir namun wajah harus selalu tersenyum sepanjang hari??
Aku, dan kami hanyalah manusia biasa, Pak!
Ah, tidak. Mana mungkin dia peduli. Yang dia pedulikan hanyalah ambisi dan egoisme-nya semata. Tak peduli keadaan orang lain, selama ego-nya terpuaskan, maka akan tetap ia lakukan. Yap, begitulah..
To be continued .. (2/3)

Comments
Post a Comment