Peradaban Mesir yang diadopsi Indonesia (an Opinion)

Beberapa waktu ini, sering kali kita menemukan salah satu dampak dari interaksi yang terjalin antara satu negara dan negara lainnya: akulturasi budaya. Tak jarang kita menemukan budaya suatu bangsa yang dipengaruhi oleh interaksinya dengan budaya bangsa lainnya. Menurut wikipedia, akulturasi budaya merupakan suatu proses sosial yang timbul ketika suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

Faktor akulturasi inipun beragam, salah satunya adalah hubungan antara dua negara dalam jangka panjang dan saling mempengaruhi dengan kuat. Contohnya saja negara kita yang berhasil mengakulturasikan budaya Tiongkok dengan budaya asli Jawa, terciptalah Wayang Cina Jawa dan Wayang Potehi yang sangat populer pada tahun 1930-1960-an dan saat ini hanya tersisa dua set wayang kulit Cina-Jawa di Museum Sonobudoyo, D.I.Yogyakarta.

Selain Cina, ternyata Mesir juga meninggalkan jejak budaya yang berhasil diadopsi oleh Indonesia. Seperti yang hingga kini dapat kita rasakan, budaya Talaqqi/Majelis Ilmu yang masih menjadi budaya para penuntut ilmu-ilmu turats islam di Mesir, khususnya bagi para wafidin. Budaya inilah yang sangat berpengaruh bagi wafidin Indonesia hingga mereka membawanya dari negeri Kinanah ini, kemudian menerapkannya sepulang mereka ke tanah air. Ulama terdahulu kita, KH. Abdul Manan Dipomenggolo yang berguru kepada Imam Besar ke-19, Ibrahim Bajuri di Al-Azhar, Mesir, pada tahun 1850 M, Imam Nawawi al-Bantani juga termasuk deretan ulama yang pernah belajar dan berkesempatan mengajar di Mesir. Tak hanya budaya talaqqi, berbagai buku turats islami pun marak digunakan oleh kebanyakan orang, mulai dari santri pesantren, para mahasiswa universitas Islam, hingga para ulama’ kontemporer. Dan seiring perkembangan zaman, buku-buku turats ini bisa diakses melalui file PDF yang diunggah dari sebuah website hingga beberapa aplikasi yang menyediakan beberapa darinya, jadi tak hanya dibaca dalam bentuk aslinya,

Tak hanya itu, Indonesia pun mengadopsi budaya zaman Mesir Kuno yang merupakan peradaban yang ada di Mesir sebelum Peradaban Islam masuk. Beberapa contohnya yaitu: candi-candi yang dibangun karena terpengaruh bangunan-bangunan besar seperti piramida Giza, pengembangan sistem penulisan hieroglif yang terdiri dari gambar dan ditulis pada makam, tembikar, dan kertas papyrus, dan teknik menggambar dengan menggunakan grid, alhasil benda seni rupa yang ada di Indonesia; candi-candi, dipenuhi dekoratif seperti bangunan Mesir Kuno.

Namun dari sekian banyak akulturasi budaya Mesir yang berhasil diadopsi Indonesia, tak sedikit diantaranya yang memberikan dampak negatif, salah satunya adalah ilmu sihir/ilmu hitam. Dikutip dari m.republika.co.id dalam artikel yang memaparkan terkait jejak sihir dalam peradaban Islam, sihir dan para penyihir ini sudah marak di lingkaran kekuasaan sejak zaman Nabi Musa A.S, kita tahu adanya sejumlah ayat al-Qur’an yang mengisahkan keimanan mereka setelah menyaksikan tongkat Nabi Musa. Ilmu hitam inilah yang hingga sekarang masih marak di tanah air.

Dari sinilah dapat ditarik hikmah akulturasi budaya Mesir yang rakyat Indonesia adopsi, sebagai sebuah bangsa yang mengakulturasikan budaya asing, kita memang banyak mendapatkan sisi-sisi positif dari budaya yang kita serap salah satunya adalah Mesir ini, akan tetapi jangan sampai kita kehilangan jati diri dan identitas kita sebagai rakyat Indonesia. Maupun dampak negatif, sebagai pemuda generasi penerus bangsa, kita harus bersiap untuk akulturasi yang akan terjadi selanjutnya, jangan sampai hanya terpukau dengan eloknya suatu budaya, namun dampaknya terhadap bangsa kita juga harus menjadi perhatian penuh.

....

November 2020 (Sebuah tulisan yang pernah dilombakan dan berhasil memenangkan juara pertama lomba opini)

Comments