Tergores budaya atau setia dengan nusantara?
Ketika disebutkan kata-kata ‘Menata masa depan indah’ maka akan timbul sudut pandang serta prospektif yang berbeda tiap individunya. Ada yang beranggapan bahwa hal tersebut merupakan hal yang harus diwujudkan dalam hidup ini serta harus berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya.
Adapula yang beranggapan, bahwa hal tersebut memang hal yang wajib, tetapi yang dilakukan hanya berpangku tangan menunggu keberuntungan datang atau bahkan hanya diam bermalas-malasan tanpa berpikir sedikitpun. Itulah yang harus dipertimbangkan setiap individu.
Hidup itu pilihan, akan tetapi jika kita salah dalam menentukan pilihan tersebut, bahkan lalai dalam bernegeoisasi dengan akal serta hati, maka tidak akan sampailah kita kepada apa yang telah ditargetkan sejak awal, hal harusnya menjadi hak segala insan di muka bumi ini. Masa depan yang indah. Layaknya impian mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang melanjutkan pendidikannya di Kairo, Mesir.
Jangankan predikat di suatu tingkat perkuliahan, lulus dari masa ‘dauru-l-lughah’ saja sudah suatu kesyukuran bagi sebagian lain yang belum memulai kuliahnya. Kehidupan mereka di tanah yang kaya akan sejarah Islam ini banyak menorehkan berbagai kisah bagi tiap individunya. Dari mereka yang melanjutkan pendidikan lanjutan seusai sekolah menengah mereka, seperti program Sarjana, Magister, maupun Doktoral. Namun ada juga yang hanya melanjutkan sekolah dan atau bersekolah di sekolah menengah yang ada di Kairo ini.
Universtas Al-Azhar Kairo, karir eksis sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di dunia, berlandaskan wasathiyyatu-l-islaam ini, telah menginjak umurnya yang ke-1079 tahun. Namun tak lekang oleh zaman dan tak habis peminat dari kalangan mahasiswa, menjadikannya terkenal semakin bersinar dikancah ilmu pengetahuan Islam dunia.
Terletak di ibukota Mesir, Kairo, dengan media penyebaran Ilmu yang kerap dilaksanakan di dua tempat; masjid dan kampus (universitas). Selain terkenal dengan Universitas tertuanya di dunia, mesir pun dikenal sebagai negerinya para Nabi, dimana terdapat banyak peninggalan sejarah Islam zaman para Nabi dan sahabat Rasul.
Pancaran ilmu yang disuguhkan Azhar dan Mesir tidak sekedar membuat ketertarikan para mahasiswa lokal meningkat, tak sedikit mahasiswa mancanegara yang mengalihkan pilihan mereka untuk menimba ilmu di lembaga pendidikan tersebut. Tak terkecuali Indonesia, tidak sedikit jumlah mahasiswa Indonesia yang meneruskan perjuangannya dalam menuntut ilmu di negeri para nabi ini.
Masisir, sapaan akrab bagi para Mahasiswa-mahasiswi yang menempuh studi mereka di Mesir, dengan berbagai aspek kehidupan yang ada di Kairo ini, mereka melihat, mengamati, menelaah serta mencoba beradaptasi dengan lingkungan Mesir yang pastinya jauh berbeda dengan lingkungan Asia, apalagi Indonesia. Mulai dari pangan, sandang, papan, hingga cuaca maupun musim yang ekstrem harus dirasakan. Bahkan bahasa maupun logat pun harus beradaptasi dengan penduduk Mesir, yang umumnya berbahasa Arab ‘amiyah serta intonasi pengucapan yang bisa dikategorikan sebagai pengucapan bernada tinggi. Baik itu mengucapkan secara langsung maupun hanya menyimak obrolan.
Ada pepatah Arab mengatakan ‘Barangsiapa yang mengerti bahasa suatu kaum, maka ia akan selamat dari tipu daya mereka’. Begitupula budaya yang ada di Mesir, ketika poin bahasa sudah kita kuasai, fushah maupun ‘amiyah, namun jangan lupa dengan budaya maupun tata krama yang berlaku di Mesir ini. Lalu bagaimana dengan budaya nusantara yang sudah berbelas-belas bahkan berpuluh tahun kita pelajari dan kita terapkan di Indonesia? Lantas akankah kita menghilangkan bahkan melupakan budaya asli kita sebagai bangsa Indoensia? Disitulah tantangan yang perlu diperhatikan oleh seluruh Masisir.
Dalam bergaul dengan warga negara lain, orang Indonesia biasa dikenal sebagai sosok berpenampilan rapih, sopan, dan ramah tamah. Mampu berorganisasi dengan baik dan teratur. Maka hal-hal seperti inilah yang harus senantiasa kita lestarikan dan pertahankan selama kita berada di ranah perjuangan ini. Jangan lantas berlaku seenaknya dan tidak mematuhi peraturan dan sopan santun yang ada. Karena adanya kita disini membawa nama baik negara kita, Indonesia tercinta. Mendapatkan yang baru, bukan berarti harus meninggalkan yang lama.
Karena hidup ini bukan seperti peraturan yang apabila diganti dengan putusan yang baru maka terhapuslah yang lama. Begitupula dengan hal baru yang menurut kita aneh dan tak biasa, jangan lantas ditolak mentah-mentah. Sebab mencoba untuk menganggap segala sesuatu ilmu pun bukan hal yang menyalahi aturan bahkan syariat. Dan selama itu tidak menunjukkan keangkuhan kita sebagai warga Negara asing, budaya yang kita miliki harus tetap dilestarikan.
Maka dari itu, apa yang telah dikenal baik oleh warga negara asing terhadap kita sebagai bangsa Indonesia harus tetap kita jaga dan kita lestarikan. Masing-masing kita diajak berpikir logis dan kritis atas segala hal. Dapat memilah dan memilih mana yang seharusnya dilakukan dan tidak pantas dilakukan. Daya suai yang tinggi inilah yang dibutuhkan dimanapun kita berada. Jangan cepat membeda-bedakan antara budaya satu dengan yang lainnya, juga jangan terlalu terlena dengan sesuatu yang bersifat sementara.


Asli keren abis
ReplyDelete